Friday, July 19

Tag: Woloan

Lumekep Sana Ta’un
Budaya

Lumekep Sana Ta’un

31 Desember 2023 Oleh: Parangsula PINAESAAN ne Kawasaran menggelar ritual spiritual di tanah Minahasa: Lumekep Sana Ta’un – ditafsir kontemplasi refleksi menuntas peristiwa dalam lembar Masehi 2023. Acara itu berlangsung senja, 28 Desember 2023, di Amphitheater Woloan di kaki gunung Lokon. Orang-orang berbagi cerita, yakni para tou, tonaas, waraney, wewene, tuama, dst. Menggugat dalam babak orde silam, sang sepuh, Tonaas Pontoh Supit Karundeng, ingatkan bahwa identitas budaya itu tetap terpatri pada setiap tou. Klaim dalam peran positif sebagai kawasaran bukan sekedar tarian, namun, “Dimaknai dalam tiap tindak nga’as – bijaksana – berkehidupan dari masing-masing tou,” begitu dipaparkan Dr. Denni Pinontoan, Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur. Luna di tahta langit timu...
Semalam di Kuranga
Econews, Editorial, Guratan, Susastra

Semalam di Kuranga

22 Desember 2021 Susastra tua ada di teks, ada di dialog khas orang-orang Wanua: mereka ada dalam ruang, ada di jalan-jalan, ada di pasar-pasar. Dan, manakala susastra itu terlontar dalam dialog mereka, boleh jadi hal itu berlangsung tanpa sadar, spontan. Saya menyebut itu 'kanaramen'. Oleh: Dera Liar Alam Penulis adalah jurnalis penulis Gambar: Malam di batas Kakaskasen MEMBACA kabar ibu kota, menikmat isu di sekitar. “Kemang Raya sore ini, banjir. Sudah tidak dapat dilalui kendaraan. Super parah.” Begitu ditera Kafi Kurnia di beranda metaverse-nya, Senin, 20 Desember 2021. Obrolan banjir, longsor, abrasi, segala bencana jadi biasa di mana-mana tempat di bumi. Apa hubungan cerita banjir di ibu kota dengan situasi di Kuranga? Bagaimana pertaliannya – banjir dengan sastra? Angga...
Secangkir Kopi dari Pendeta untuk Sang Jenderal
Estorie

Secangkir Kopi dari Pendeta untuk Sang Jenderal

02 Maret 2019 Secangkir kopi hangat disajikan seorang pendeta, Ds. A.Z.R. Wenas kepada sang jenderal menyambut perdamaian yang lama dinanti... Oleh: Denni Pinontoan Penulis adalah penulis, mengajar di IAKN Manado Editor: Daniel Kaligis Artikel ini dikutip dari: kelung.id APRIL tahun 1961 di Tanah Minahasa. Tepatnya di sebuah kampung bernama Woloan, Tomohon. Saat itu hujan rintik-rintik. Udara agak dingin. Hari itu tanggal 11 April 1961. Seorang pemimpin gereja terbesar di Minahasa, Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM), Ds. A.Z.R. Wenas tampak hadir berada di antara para perwira militer, baik dari pihak Perjuangan Semesta (Permesta) maupun TNI. Seorang di antaranya adalah Jenderal Hidayat. Ds. Wenas lalu bertanya kepada sang jenderal mau minum apa. “Een kop koffie, Dominee,...