Sunday, September 24

Manggar dan ‘Pemahaman Nenek Lu’


26 Juni 2023


Dermaga lama, di seberangnya ada Kampung Baru, pemukiman itu telah ada ratusan tahun, para petualang yang datang dari berbagai pulau menempati lokasi itu, katanya, ada yang datang dari Sulawesi, yaitu para petualang Bugis. Ada juga orang-orang Tionghoa, Hakka minoritas Minnan atau Hokkian yang didatangkan tahun 1700 – 1800 untuk kepentingan tenaga penambang timah dari Guangdong, yakni dari Meixian, Prefektur Huizhou, Prefektur Chaozhou. Suatu sore sempat mampir di situ, menyaksikan para pemancing ikan, air sungai bercampur debar samudera, tiang-tiang dan pagar tembok logam, kapal yang sandar, dan suara yang terbawa angin. Demikian sekilas pelabuhan Manggar di Belitung Timur.

Di sana ada nama-nama terkenal yang mengisi sejarah Nusantara: Lim Tau Kian, Lim Boe Sing, Tjoeng A-tiam, Tan Hong Kwee, Tony Wen, Myra Sidharta, Sandra Dewi, Rudianto Tjen, Hidayat Arsani, Bambang Patijaya, dan nama kontroversial di jagad politik Indonesia yaitu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.


Oleh: Daniel Kaligis


Gambar: Sore di ASDP Manggar


GONDANGDIA September 2016 — tepatnya di Sekretarian Nasdem, Jl. RP. Soeroso No 42, Jakarta Pusat, ingat saat itu bertemu langsung Ahok, tokoh yang terkenal sebab sabda ‘pemahaman nenek lu’. Bersua dan bersalaman dengan banyak orang, ketika itu sang petahana itu baru saja usai mendaftar di KPUD DKI, Salemba Jakarta.

Apa itu ‘pemahaman nenek lu’? Ahok, medio awal Januari 2015 pernah menyoret pengajuan anggaran ‘sosialiasi SK-SK Gubernur Rp. 8,8 triliun’ yang diusulkan DPRD DKI Jakarta. Anggaran tidak jelas peruntukkannya membuat Ahok murka dan menulis di lembar pengajuan, “Pemahaman nenek lu!” Hal ini membuat para anggota DRPD di ibukota negara tersinggung. Ternyata, teknologi e-budgeting mampu membaca ‘dana-dana tidak jelas’ yang selalu diselipkan dalam anggaran negara yang diambil dari uang rakyat.

Wayback Machine menyimpan: pernah datang di Belitong, mengitari pantai-pantainya, hutan karet, ladang, pemukiman, dan mampir di dermaga Manggar. Masih ingat, kisah berita digugat sebab jadi panggung bunuh karakter oleh media massa. Anda boleh telusur beritanya di Kompas, ‘Habis Pemilu, Polisi Periksa Ahok’. Saya datang di sana November 2018, kemarau masih sengat di pulau masyur timah putih dan sahang atau lada putih itu — tanah yang diapit dua selat, Gaspar dan Karimata.

Belitung Timur itu kampungnya Ahok. Datang ke sana dan menulis: Kulong Keruh, menikmat badai berdesir di dedaun manakala sajak merdu berdesir dari gadget. ‘I can still feel the breeze that rustles through the trees’. Mengingat kota Seribu Satu Warung Kopi di sisa kejayaan Kerajaan Timah, terkenang hutan karet dan pantai-pantai elok rupawan.

Ada catatan kecil ketika datang di Manggar. Hutan hevea brasiliensis, para, bebatu, nelayan, penambang, aroma kopi di pagi buta, derai gelombang menampar Gaspar, mengapus jejak masa silam. Hevea brasiliensis, dikenal juga sebagai pohon karet atau para. Beberapa catatan menyebut tanaman ini dikembangkan oleh Henry Alexander Wickham. Dia penjelajah Inggris yang lahir di Hampstead, London, 29 Mei 1846. Walau, Brazil, negeri di mana tanaman karet itu berasal, mencap Wickham sebagai biopiracy.

Museo Barco Historicos di Iquitos, Peru, menyebut apa yang dikerjakan Wickham sebagai tindakan biopiracy terbesar di abad sembilan belas, dan mungkin terbesar dalam sejarah: Tumbuhan karet asalnya dari di Brazil dan Peru.

Tumbuhan ini ada di hutan-hutan Amazon Selatan. Peradaban Mesoamerika menggunakan karet dari Castilla elastica. Orang Amerika Tengah kuno menggunakan bola karet dalam permainan mereka. Di Brasil orang lokal membuat baju tahan air dari karet. Ada cerita menyatakan bahwa orang Eropa pertama yang kembali ke Portugal dari Brasil dengan membawa baju anti-air tersebut menyebabkan orang-orang terkejut sehingga ia dibawa ke pengadilan atas tuduhan melakukan ilmu gaib.

Di negeri kita, Manggar ingatkan saya pada gaib orang-orang yang berpakaian ‘karet’, menjadi kebal hukum karena menguasi materi, uang dan kursi kekuasaan. Seperti itu pemahaman yang ditularkan sistem masih bertahta hingga hari ini.

Waktu jadi teramat ringkas oleh sejarah yang ternyata berulang dan sama karena evaluasi kurang. Daftar-daftar, aktivitas politik untuk raih kursi kuasa dan tahta sementara berlangsung. Publikasinya sudah marak di media sosial. Masih sama, bila tidak segera evaluasi, maka politik akan segera menindas siapa saja yang lapar haus pemahaman bernegara, bersosialisasi, dan jadi warga dunia. Pemahaman nenek lu — sandar dan mesra di dermaga otak kita. Kita butuh baru, evaluasi, semangat, inovasi, program, dan implementasi. (*)