Monday, February 26

Kisah di Genting


2021


Oleh: Dera Liar Alam
Gambar: Gondola Lift, Genting Skyway, Pahang.


BANGUNINDONESIA.COM GEORGE TOWN — MANAKALA datang ke Malaysia, berapa tahun lalu, di Genting Strawberry Leisure Farm, saya ngobrol dengan Naga, sopir angkutan sewa yang saya gunakan dari Kuala Lumpur ke Genting. Lelaki legam itu senatiasa berbinar rautnya ketika menawarkan jasa angkutan, dia English Speaking Driver yang ramah selama perjalanan.

Pada saya Naga berkisah pengalamannya ketika jadi awak kapal barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan berikut, melewati Gaspar dan Selat Karimata. “Nakoda, Officer, dan Watchkeeping biasanya mengerti bila ada gangguan di laut. Misalnya ada serangan dari perompak. Semua awak kapal disiagakan, tak perlu panik. Serangan tidak terduga, tidak kami tunggu, tapi bila mereka datang kami siap berkelahi,” kata dia.

Naga bilang, kecelakaan di laut terjadi karena kesalahan dari kapal itu sendiri. “Jika bukan karena badai, kecelakaan kapal laut karena overdraft. Kapal penuh muatan, atau ada kecerobohan, orang membuang puntung rokok sembarang membikin kapal terbakar.”

Manakala mampir di Casino de Genting, agak heran, di tempat yang dilarang membawa kamera itu, saya justru berada di sana dengan kamera tergantung di depan perut mancung.

Nonton simulator terjun bebas, menelusur tiap sudut First World Plaza, memesan kopi, membuka notebook, baca artikel, menandai pesan, menulis resume, mengedit data.

Kemudian nyeberang ke Singapore, ke Vivo City, nongkrong di River Cruise, memotret burung di Cavenagh Rd, berlama-lama di depan Regency House, lalu lupa jalan pulang.

Poin kecil, intisari ngobrol dengan Naga: kecelakaan, selalu ada unsur keteledoran manusia, mungkin kesengajaan, boleh jadi terulang kapan saja. Maka, selalu-lah berhati-hati dalam setiap aktivitas.

Datang di Genting, memang penting. (*)