Wednesday, June 19

Hannah Arendt


30 November 2021


Oleh: Dini Usman
Penulis adalah pelukis dan penulis
Editor: Parangsula
Gambar: Hannah Arendt – imperrin.wordpress.com


Berpikir adalah bekerja di ruang sunyi. Apakah dengan demikian ketika berpikir, kita akan mampu menemukan esensi, lepas dari kepentingan apapun bahkan kepentingan yang diselubungi sedikit itikad kejahatan terselubung secara halus?

Ketika kematian seseorang bisa saja kita anggap tragedi, tapi ketika kematian itu terus menerus terjadi, kita kemudian dihadapkan pada satu perasaan ketakutan yang konstan, sehingga karenanya kita pun mencoba mencari solusi atas terror: Sekedar asumsi saya saja – untuk membiasakan diri dengan cara menganggap setiap info atau peristiwa kematian pada dua tahun belakangan ini sebagai permisalan, yakni dengan menghitung berapa jumlah kematian itu, dan akhirnya kematian itu menjadi angka-angka statistik. 


TADI malam, walau letih, kupaksa menonton film seperti pada poster yang kuunduh di Google ini. Hannah itu jenius, seorang filsuf, salah satu korban genosida Nazi di Jerman, karena itulah ia pindah ke Perancis. Ketika Prancis dihajar Jerman, Hannah pun masuk sel, karena ditolong koleganya, ia berhasil dideportasi ke Amerika. Selama beberapa tahun kemudian barulah Hannah Arendt menjadi warga negara Amerika Serikat.

Di universitas saat belajar filsafat, perempuan ini bertemu Martin Heideggar, seorang filsuf besar. Hanya saja keduanya memang beda arus, Hannah gencar membela bangsanya dan Martin dekat dengan Nazi, namun keduanya dipertemukan oleh senyawa kimia yang bernama ketertarikan. Martin sudah beristri.

Di Amerika, Hannah menjadi dosen di beberapa universitas. Ia menikah dan hidup bahagia bersama suaminya dan kawan-kawan dekatnya dengan penuh suka cita. Suatu hari ia mendapat undangan untuk menghadiri persidangan Eichmann di Israel. Ia seorang yang dipersangkakakan mewakili salah satu aktor di NAZI untuk mempertanggungjawabkan kematian ribuan orang Jahudi dalam satu spot genosida di sana waktu itu. Dalam persidangan yang dibatasi dinding kaca dan dikawal pihak pengamanan, Hannah dan beberapa orang lainnya mengamati proses itu dengan teliti, dan kemudian ia menuliskannya dalam buku yang berjudul Banality of Evil Eichmann.

Barbara Sukowa as Hannah Arendt, wrote about the trial of Nazi war criminal Adolf Eichmann for the New Yorker, coining the phrase ‘Banality of Evil’. © ZeitGeist Films

Awalnya mendapat banyak sekali kecaman, ancaman, ejekan yang mengandung kebencian pada dirinya setelah beberapa artikel dari rencana keseluruhan isi buku itu diterbitkan media. Kebencian itu juga datang dari kalangan bangsanya sendiri. Tapi ia tegar, dingin dan remuk. Hannah menyadari, orang-orang belum paham maksudnya, karena mungkin kesulitan memisahkan dengan bening sisi emosionalitas dan pikiran yang jernih dalam memandang berbagai persoalan sekiranya pun ia sendiri mengalami kesakitan-kesakitan luar biasa dan hampir-hampir sulit dipercaya untuk bisa dimaafkan.

Berpikir, kata Martin Heiddegar, guru filsafatnya suatu hari padanya ketika ia masih menjadi mahasiswa, adalah bekerja di ruang yang sunyi. Apakah dengan demikian ketika berpikir, kita akan mampu menemukan esensi, lepas dari kepentingan apapun bahkan kepentingan yang diselubungi sedikit itikad kejahatan yang terselubung secara halus?

Hannah Arendt mengatakan, setiap tindakan moral adalah ilegal dan setiap tindakan hukum adalah kejahatan. Bagaimana bisa itu terjadi?

Ketika kematian seseorang bisa saja kita anggap tragedi, tapi ketika kematian itu terus menerus terjadi, kita kemudian dihadapkan pada satu perasaan ketakutan yang konstan, sehingga karenanya kita pun mencoba mencari solusi atas teror yang dihadapi (ini sekedar asumsi saya saja) untuk membiasakan diri dengan cara menganggap setiap info atau peristiwa kematian pada dua tahun belakangan ini sebagai permisalan, yakni dengan menghitung berapa jumlah kematian itu, dan akhirnya kematian itu menjadi angka-angka statistik. Gila!

Pun ketika Eichmann ditanyai pertanggungjawabannya pada peristiwa pembantaian massal atas nama kebencian pada Yahudi, ia dengan ekspresi mukanya yang berubah-ubah cepat menyatakan bahwa itu tugas yang dia terima dari Fuhrer, dari pimpinan puncak NAZI. Dan apakah karenanya ia dianggap tak bersalah karena Hitler sudah mati?

Buku Hannah tentang ‘Banality of Evil Eichmann’ (Kedangkalan Kejahatan Eichmann) itu, sangat bagus kalau kita baca sebagai sebuah referensi, karena agaknya ada yang bisa ditautkan ketika kita memandang peristiwa yang sama dengan versi berbeda dan pernah terjadi untuk negeri amat tercinta ini. Aih. (*)


Saksikan di sini trailernya:
Hannah Arendt MOVIE Trailer