Wednesday, June 12

Tag: Goethe

SJAHRIR
Estorie, Opini, Susastra

SJAHRIR

Medio 2014 Sutan Sjahrir – Kepala Pemerintahan RI [1945-1947] yang penggila susastra: Saya bisa tambahkan, keberanian Sjahrir itu sungguh kebajikan (virtue) yang ideal – persis sama dengan yang dicontohkan pribadi Socrates, yang dicatat Plato dan diteorikan dengan hampir sempurna oleh Aristoteles – sifat yang terbentuk tepat di titik tengah yang jauh dari ujung kutub takut dan ujung kutub nekat. Titik bijak itu, saya sangat yakin, terbentuk berkat tekad mewujudkan kasih sayangnya pada sesama melalui caranya yang penuh hikmat, yakni hikmat yang pembentukannya didasari kasih sayang dan dibantu oleh arahan pengetahuan amat luas yang dimilikinya melalui [terutama:] sastra dan filsafat. Oleh: Benni E. Matindas Penulis adalah budayawan Editor: Parangsula Gambar: Sjahrir at KNIP plenar...
Rasionalitas
Budaya, Guratan, Opini

Rasionalitas

02 September 2022 Oleh: Benni E. Matindas Penulis adalah budayawan Editor: Parangsula SEKELOMPOK sarjana usia belia meminta saya bicara tentang ‘Rasionalisme’ dalam webinar. Tahu mereka bukan dari jurusan filsafat, saya langsung mafhum maksud mereka sebetulnya: bukan tentang ‘Rasionalisme’, melainkan cuma tentang kritik populer terhadap rasionalitas. Saya cepat menangkap maksud mereka sebab topik itu sendiri amat akrab dengan saya sejak 30-an tahun lalu dan sejak itu terhitung intens saya geluti. Pada 1990-an banyak aktivis LSM pro-lingkungan yang sedang latah dengan tema itu merasa terlucuti pegangan filosofisnya bila saya jelaskan yang sebenarnya. Awal kedekatan saya dengan Prof. Liek Wilardjo, seorang Kristen saleh yang pakar fisika nuklir, epistemolog, pakar bahasa — pun karen...
Tiga Abad Immanuel Kant
Estorie, Guratan, Opini

Tiga Abad Immanuel Kant

23 April 2024 Tokoh filsafat Jerman itu lahir, 24 April 1724. Pemikiran Kant sebagian besar mengkritik tentang metafisika tradisional, dan dia mengandalkan penggunaan akal dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan… Oleh: Benni E. Matindas Penulis adalah budayawan DI AKHIR Abad XVIII, benih-benih pencerahan yang disemai oleh Humanisme dan telah berkembang sepanjang empat ratus tahun laksana gelombang pasang melanda secara efektif semua sendi kehidupan umat manusia: filsafat, seni, politik, budaya, sains, sampai gereja — tiba-tiba sudah berada di jalan buntu lantaran pertentangan tumpas-menumpas tak terdamaikan di antara anak-anak kandung filsafatnya sendiri, yakni Rasionalisme versus Empirisme, dan sekaligus berada di tepi jurang keruntuhan lantaran — sebagaimana diperingatkan kaum...