Tuesday, July 16

Ledak Hukum Bimbang dan Misteri Geopolitik


30 Juni 2024


Pepohon di Taiga dedaun menajam-jarum, berselimut lilin di kulit luarnya, tahan kering musim ekstrim. Sajak beku diterabas hujan purba zaman hilang memangil-mangil, rendezvous: divisio mimpi anak manusia di benua tanpa tanda, padahal khayal telah dimodifikasi sebagai dusta penanggalan berpuluh abad disembah dalam sepersepuluhan dan sejumlah sesajen untuk manusia-manusia yang telah menuhankan dirinya…


Oleh: Dera Liar Alam


BIOGEOGRAFI teramat luas di timur Rusia — Taiga Siberia Timur — ekosistem dalam bioma Taiga dan hutan boreal di mana salju merajai, tercatat ekologi itu tersusun atas satu spesies seperti konifer, tusam, separ, dan sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, sedangkan hewannya antara lain rusa besar, beruang hitam, beruang cokelat, rubah, serigala, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

Suatu pagi jelang siang di ujung Juni, saya nyangkul data sekunder, membaca hukum bimbang teori-teori, geopolitik diracuni pandemi, kemanusiaan semesta menyembul dari hutan adat – tanah adat yang sudah dinegarakan. Rakyat, termasuk sistem, hari ini masih mengimpor keyakinan asing, menyebar dogma kebencian terhadap plural. Sistem menggali-gali tagihan di semua poin strategis ruang nafkah rakyat.

Di sini, di tanah kita: orang-orang terusir tergusur bukan cerita baru. Ledak pengingkaran sistem jelas tegas di bayang todong senapan, kuasa yang diberi gelar-gelar pangkat-pangkat, dan para miskin yang berangkat sebagai tertuduh. Wahai mimpi musim ekstrim, bawa diri malam mulia bertemu semesta. Miskin, tumbal sistem.

Tahun silam, saya mencatat estorie: Ledak Tunguska, 30 Juni 1908, di pedalaman Siberia, Krai Krasnoyarsk, Rusia, sekitar 7:14 A.M. — berdasarkan kalender Julian — yang ketika itu dipakai di sana, tanggal kejadian adalah 17 Juli 1908. Penyebab peristiwa ini masih diperdebatkan: diduga ledak udara meteoroid atau mungkin komet pada ketinggian lima hingga sepuluh kilometer di atas permukaan bumi.

Dunia pengetahuan punya catatan tentang berlaksa-laksa misteri. Panjang-lebar BBC, menuliskan peristiwa ‘ledakan terhebat dalam sejarah, misterius hingga kini’, 18 Mei 2028. Seperti tiga paragraf di bawah ini kisahnya:

Bola api yang melambung itu diyakini lebarnya 50 – 100 meter, melalap habis dua ribu kilometer persegi hutan Taiga di daerah itu, menumbangkan sekitar delapan puluh juta pohon. Bumi bergetar. Jendela-jendela di kota terdekat lebih dari enam puluh kilometer jauhnya pecah-pecah. Penduduk di sana bahkan bisa merasakan panas dari ledakan itu, dan banyak yang terlontar. Ledakan disusul bunyi-bunyi keras seperti batu yang berjatuhan dari langit, atau dari rentetan senjata api.

Untungnya, daerah lokasi ledakan besar ini terjadi tak banyak dihuni orang. Tidak ada laporan resmi tentang korban manusia, meskipun seorang gembala rusa dilaporkan meninggal setelah dia terhempas ke pohon akibat ledakan. Ratusan rusa juga jadi tinggal bangkai-bangkai hangus. Seorang saksi mata mengatakan bahwa, “langit terbelah menjadi dua, dan jauh di ketinggian di atas hutan, seluruh bagian utara langit tampak diliputi api …”

Peristiwa Tunguska masih merupakan ledakan yang paling hebat dalam jenisnya yang tercatat dalam sejarah – melepaskan energi sekitar 185 kali lebih kuat dibanding saat terjadinya ledakan bom atom Hiroshima. Getaran gempa bahkan terasa hingga Inggris. Namun, lebih dari seratus tahun kemudian para peneliti masih juga bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu. Banyak yang yakin bahwa ledakan itu diakibatkan jatuhnya asteroid atau komet. Tapi sangat sedikit jejak benda luar angkasa besar ini yang ditemukan, mengakibatkan suburnya berbagai penjelasan aneh-aneh tentang ledakan itu.

Jejak mundur, 30 Juni 1905. Relativitas khusus diterbitkan Albert Einstein: Teori ini menggantikan pendapat Newton tentang ruang dan waktu – memasukan elektromagnetisme sebagaimana tertulis oleh persamaan Maxwell. Teori ini disebut khusus karena berlaku terhadap prinsip relativitas pada kasus tertentu dari rangka referensi inertial dalam ruang – waktu datar, di mana efek gravitasi dapat diabaikan. Sepuluh tahun kemudian, Einstein menerbitkan teori relativitas umum yang memasukan efek tersebut.

Anggap saja artikel ledakan ini sebagai cocoklogi. Omong kosong, imposture, trik, lelucon, penipuan, syam, akal-akalan, palsu, dodge, parodi, ledekan pada diri sendiri yang suka mencocok-cocokan hal peristiwa dengan ilmu apa saja dan seterusnya.

Tentang ledak misteri di Tunguska, sebagaimana diberitakan di BBC, ketika itu pertikaian politik di negeri itu sedang meningkat- Perang Dunia Pertama dan Revolusi Rusia sudah di depan mata. Ledakan, “Hanya diberitakan di beberapa koran lokal, dan tidak muncul di media di St Petersburg atau Moskow,” kata Natalia Artemieva dari Planetary Science Institute di Tucson, Arizona.

Baru beberapa dekade kemudian, medio 1927, sebuah tim Rusia yang dipimpin Leonid Kulik datang ke daerah itu. Dia sebelumnya menemukan paparan tentang peristiwa itu enam tahun sebelumnya dan bisa meyakinkan pihak berwenang Rusia bahwa perjalanannya akan bermanfaat. Ketika dia sampai di sana, kerusakan masih terlihat begitu jelas, hampir dua puluh tahun setelah ledakan. Dia menemukan pohon-pohon rata tanah mencakup area yang begitu luas, menyebar dalam kelebaran sekitar lima puluh kilometer dalam bentuk kupu-kupu aneh. Dia menduga hal itu akibat suatu meteor luar angkasa meledak di atmosfer. Membingungkan dia, tidak ada kawah terbentuk sebagai dampak benturan. Tidak juga ada sisa-sisa meteorik apa pun. Sebagai penjelasannya, dia memunculkan teori bahwa tanah berawa di sana terlalu lunak untuk mengawetkan benda apa pun itu yang menabraknya dan bahwa setiap puing dari benturan itu telah terkubur.

Para peneliti Rusia menyebut bahwa yang menyebabkan kerusakan hebat itu adalah komet, bukan meteor. Komet sebagian besar terdiri dari es – bukan batuan seperti meteorit – jadi tidak adanya fragmen batuan asing bisa lebih masuk akal dengan teori ini. Es akan mulai menguap ketika memasuki atmosfer bumi, dan terus menguap hingga menghantam bumi.

Teori aneh analisa ajaib berseliweran. Dalam ekspedisi tahun 1958 ke situs itu, para peneliti menemukan sisa-sisa mineral silikat dan magnetit di dalam tanah. Analisis lebih lanjut menunjukkan tingginya kadar nikel — yang diketahui merupakan karakteristik batuan meteorik. Teori tentang meteor tampak kuat akhirnya – dan K. Florensky, penulis laporan peristiwa itu yang ditulis tahun 1963, sangat berharap hal itu membuat teori-teori lain yang mokal-mokal tak lagi dimunculkan. “Kendati saya menyadari keuntungan dari publisitas sensasional dalam menarik perhatian publik terhadap suatu masalah, harus ditekankan bahwa bermunculan minat tidak sehat akibat dari terdistorsinya fakta-fakta dan misinformasi tidak boleh digunakan sebagai dasar untuk memajukan pengetahuan ilmiah.”

Tetap saja, hal itu tidak menghentikan munculnya orang-orang dengan ide-ide yang lebih imajinatif. Pada tahun 1973 sebuah makalah diterbitkan di Nature, menyebutkan ledakan itu disebabkan lubang hitam yang menabrak Bumi. Ini segara dibantah berbagai kalangan. Artemieva mengatakan pikiran-pikiran seperti ini sekadar produk sampingan dari psikologi manusia. “Orang-orang yang menyukai rahasia dan teori biasanya tidak peduli pada para ilmuwan.” Ledakan besar, ditambah dengan terbatasnya sisa-sisa kosmik, sudah merupakan bahan yang matang untuk spekulasi semacam itu.

Beralih dari Taiga ke isu yang deras memicu ledak di negeri kita sendiri. Apa itu? Data, anda punya, teman lain juga punya. Data beradu data.

Ledak masih membahana. Dewasa ini berita cerita usik kisah negeri sendiri, mari kita mengutip: Hacker klaim bobol data institusi keamanan negara, nama personel hingga dokumen rahasia Bocor; Fight ransomware attacks; Daftar lengkap lembaga negara yang terdampak serangan ransomware; Sri Mulyani beberkan anggaran PDN yang kena ransomware; Biang kerok Pusat Data Nasional diserang ransomware sudah ketahuan, rekyat dan ahli mencibir; PDN diretas, pemerintah wajibkan kementerian back-up data berlapis; BSSN sempat peringatakan Kominfo sebelum PDN diretas ransomware LockBit 3.0. Apa daya, berita telah tersebar. Data memang rawan, demikian juga hoax dan dusta masih terus ditebarkan oleh sistem. Judul-judul menajam, namun regulasi untuk lindungi data digital ternyata tidak ada di negara kita.

Konotasi rakyat dalam data yang disebut surplus dan berlebih, lautan pasukan bergerak menuntut janji-janji tanpa fakta. Mimpi masa depan itu telah sementara meletus dan jadi asap, jadi abu, jadi bekas mendaur ulang barisan panjang pasukan mabuk dogma derita pongah berkepanjangan. Mana ‘Macan Asia’ itu? Jangan-jangan sang macan lagi tidur, ledak dengkurnya mengabarkan kenyang berkeliaran kampanye dan telah selesai membagi janji-janji ke segala pelosok negeri.

Jalan hidup pencarian pengembaraan hidup beroleh sesuap nafkah telah dipagari tagihan-tagihan dan isu. Ruang geografis telah dipetakan semau kepentingan politik penguasa yang terus menurunkan muntah beringas regulasi yang jadi terali jadi tembok-tembok penjara yang halangi kemanusiaan semesta bertumbuh dalam moral dan etika. Ledak ini yang meledek kekuasaan tumpul dalam menuntaskan soal-soal hukum para korup para rampok yang sudah menggurita di tubuh sistem.

Hukum bimbang telah memenjara orang-orang tak bersalah dan mereka yang tak sanggup bayar tuntutan keserakahan sistem. Padahal dulu, negeri kita disemaraki orang-orang yang mau berdialog dalam mencari jalan keluar, menghadapi riuh ledak berbagai soal. Sekarang, jadi barisan panjang ledakan penduduk lapar gurang ilmu yang hanya menuntut agar perutnya digendutkan, biar otak tetap kecil, kerdil dan memalukan dalam kancah pergaulan dunia.

Dulu, dengan meledak-ledak pemimpin negeri berseru, “Secara keseluruhan, kita harus berkontribusi pada iklim politik-keamanan Asia-Pasifik yang terus berubah untuk lebih baik. Terkait dengan tanggung jawab dan peran baru kita dalam kancah internasional, kita diharapkan untuk lebih proaktif dan lebih kreatif. Kita harus berkontribusi kepada tata pemerintahan dunia, tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang politik-keamanan.”

Hari ini data tidak aman. Ledak di kemudian hari akan semakin sering dan intens. Anda siap? Harus siap. Siap-siap meledak sebab hukum bimbang telah mengganti regulasi dengan tagihan yang disodorkan menyumbat jalan pikiran. (*)